Peran Geothermal dalam Mencapai Target Net Zero Emission
Jakarta, Narasinews.com - Pemanasan global telah mendorong negara-negara di seluruh dunia untuk menetapkan target ambisius guna mencapai Net Zero Emission (NZE). Dalam misi besar ini, dekarbonisasi sektor energi menjadi kunci utama, mengingat pembangkit listrik berbasis fosil merupakan penyumbang emisi karbon terbesar.
Di tengah pencarian sumber energi bersih yang stabil dan berkelanjutan, energi panas bumi atau geothermal muncul sebagai kandidat terkuat untuk menjadi tulang punggung transisi energi, khususnya bagi negara-negara yang berada di jalur cincin api seperti Indonesia.
Geothermal bukan sekadar alternatif, melainkan solusi strategis yang menawarkan keandalan yang tidak dimiliki oleh sumber energi terbarukan lainnya karena mampu menyediakan pasokan daya yang konstan dan tidak tergantung pada kondisi cuaca.
Karakteristik Baseload yang Tak Tergantikan
Salah satu tantangan terbesar dalam transisi energi adalah sifat intermiten dari energi surya dan angin.
Matahari tidak selalu bersinar dan angin tidak selalu berhembus dengan kekuatan yang sama, sehingga membutuhkan sistem penyimpanan baterai yang mahal untuk menjaga stabilitas daya. Di sinilah geothermal menunjukkan keunggulannya sebagai sumber energi baseload.
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) mampu beroperasi selama 24 jam sehari dengan faktor kapasitas yang sangat tinggi, mencapai lebih dari 90 persen. Karakteristik ini membuat geothermal mampu menggantikan peran pembangkit listrik tenaga batu bara sebagai pemasok listrik utama secara konsisten.
Dengan mengalihkan beban dasar listrik ke geothermal, sebuah negara dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil tanpa mempertaruhkan keamanan pasokan energi nasional.
Rendahnya Emisi dan Efisiensi Penggunaan Lahan
Dalam perjalanan menuju Net Zero Emission, setiap gram karbon sangat berarti. Geothermal dikenal sebagai salah satu sumber energi paling bersih di bumi.
Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh pembangkit geothermal sangatlah rendah dibandingkan dengan minyak bumi maupun batu bara. Sebagian besar emisi yang keluar hanyalah uap air, yang tidak memberikan dampak negatif terhadap atmosfer.
Selain itu, PLTP memiliki keunggulan dalam efisiensi penggunaan lahan. Dibandingkan dengan ladang panel surya atau bendungan hidroelektrik skala besar, pembangkit geothermal membutuhkan area permukaan yang relatif kecil untuk menghasilkan jumlah energi yang sama.
Hal ini sangat penting dalam upaya pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati, karena pembangunan infrastruktur energi bersih tidak harus mengorbankan ekosistem hijau yang juga berfungsi sebagai penyerap karbon alami.
Potensi Strategis Indonesia sebagai Pemimpin Global
Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa dalam sektor ini, dengan menyimpan sekitar 40 persen dari total cadangan panas bumi dunia. Memaksimalkan potensi geothermal bukan hanya soal mencapai target lingkungan, tetapi juga soal kemandirian ekonomi.
Dengan mengembangkan lapangan panas bumi di berbagai wilayah, Indonesia dapat mengurangi beban impor bahan bakar minyak yang seringkali menguras devisa negara.
Pengembangan geothermal juga menciptakan efek ekonomi lokal yang positif. Proyek-proyek PLTP seringkali berlokasi di daerah terpencil atau pegunungan, yang secara otomatis membawa pembangunan infrastruktur jalan, akses listrik, serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
Ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya fokus pada aspek lingkungan, tetapi juga keadilan sosial dan pertumbuhan ekonomi inklusif.
Tantangan dan Inovasi Masa Depan
Meskipun perannya sangat strategis, pengembangan geothermal masih menghadapi hambatan besar, terutama dalam hal risiko eksplorasi dan biaya investasi awal yang sangat tinggi. Tahap awal penemuan cadangan uap di bawah tanah membutuhkan teknologi canggih dan pendanaan yang kuat.
Oleh karena itu, dukungan regulasi dari pemerintah dalam bentuk insentif pajak serta skema pembagian risiko dengan sektor swasta sangat diperlukan untuk mempercepat pengembangan proyek-proyek baru.
Inovasi teknologi juga mulai merambah ke pemanfaatan langsung (direct use) energi panas bumi, seperti untuk pengeringan hasil pertanian, pemanasan rumah kaca, hingga industri pariwisata pemandian air panas.
Selain itu, ada potensi besar dalam pemanfaatan geothermal untuk menghasilkan hidrogen hijau (green hydrogen), yang dapat digunakan sebagai bahan bakar bersih untuk sektor industri berat dan transportasi laut di masa depan.
Pilar Penting Energi Bersih
Energi geothermal adalah pilar yang tak tergoyahkan dalam arsitektur Net Zero Emission. Dengan karakteristiknya yang stabil, rendah emisi, dan berlimpah secara alami, geothermal menawarkan jalan keluar yang realistis dari ketergantungan fosil.
Bagi negara dengan potensi besar, investasi pada energi panas bumi adalah investasi pada masa depan yang lebih bersih, lebih aman, dan lebih makmur.
Perjalanan menuju emisi nol bersih memang menantang, namun dengan memanfaatkan panas yang tersimpan di perut bumi, kita memiliki peluang besar untuk mencapai target tersebut tepat waktu.
Geothermal adalah bukti bahwa alam telah menyediakan solusi bagi krisis iklim yang kita hadapi, kini tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan bijak demi keberlangsungan generasi mendatang.
Di sisi lain, transformasi menuju kemandirian energi ini semakin diperkuat oleh integrasi gas bumi dalam bentuk cair. PGN LNG Indonesia mendukung terciptanya ekosistem energi yang lebih bersih melalui penyediaan LNG atau gas alam cair sebagai alternatif bahan bakar yang berkelanjutan, berperan sebagai jembatan krusial dalam masa transisi energi.
Sebagai bahan bakar fosil dengan intensitas karbon terendah, LNG mampu menambal celah kebutuhan energi yang belum terjangkau sepenuhnya oleh infrastruktur terbarukan, sekaligus memberikan fleksibilitas tinggi bagi sektor industri dan kelistrikan untuk beralih dari energi tinggi emisi ke solusi yang lebih ramah lingkungan

